Saya bukan jago olahraga, namun jika digelar ujian lari marathon pada waktu sekolah dulu, saya selalu menjadi wanita kedua yang berhasil samapi di garis finish paling awal. Dan hingga hari ini saya bangga sekali dengan prestasi tersebut.
Saya --yang memiliki nafas pendek dan bolak-balik indekost di rumah sakit-- mampu mengalahakan puluhan wanita-wanita, yang beberapa diantaranya memiliki tubuh yang jauh lebih bugar. Hebat bukan??!! Mengingatnya saja sudah membuat dada saya melembung. Bahwa kemudian saya tidak pernah jadi yang pertama, itu hanya sekedar nasib sial. Kebetulan saja saya satu kelas dengan seorang atlet. Dan mengalahkannya dalam soal lari sudah saya masukan dalam katagori ‘prestasi yang terlalu berlebihan..’. ^^_
Mungkin anda terusik dengan nada kesombongan yang terkandung dalam kata-kata saya di atas. Sembari melontarkan sebuah nasehat yang menyengat ‘Hati-hati lho jueng orang sombong itu dibenci Alloh’, dan saya akan menimpali dengan jawaban “memang siapa yang sombong??!” sembari menampakan wajah bloon (klo yang ini tak perlu ditampakan, sudah Nampak dari sononya.cepak!).
Archive for November 2011
posted by cokelat tanah on cokelattanah
posted by ayu on kuningmentari
Angin menarikan ujung jilbab lebarnya kala perempuan itu duduk melingkar
Angin setia menemani saat langkahnya menyusuri jalan menuju ilmu
Angin masih setia menyaksikannya menuliskan alif ba ta bagi bocah bocah kecil
Angin tetap setia membersamai hari harinya berkejaran mendulang pahala
Berhitung malam dan siang bersahutan
Angin,
terus ada, tak bicara

Read more »
Angin setia menemani saat langkahnya menyusuri jalan menuju ilmu
Angin masih setia menyaksikannya menuliskan alif ba ta bagi bocah bocah kecil
Angin tetap setia membersamai hari harinya berkejaran mendulang pahala
Berhitung malam dan siang bersahutan
Angin,
terus ada, tak bicara

posted by merah langit on amanah, menikah, telur
Dari dulu saya sering mengasosiasikan dua kata ini. Ketika ada yang menyampaikan materi atau berwanti-wanti agar menjadi produktif, bayangan saya langsung tertuju pada telur dan seekor ayam betina.
Gara-garanya, saya pernah melihat tempelan stiker pada pintu kamar kost saya dulu. Isinya ya itu tadi, anjuran untuk produktif dengan ilustrasi sekeranjang telur. Jadilah itu senantiasa terbayang dalam benak saya. Produktif ya bertelur. Dan telur-telur itu adalah buah produktivitas. Kira-kira begitu.