menjadi gendut


posted by merah langit

9 comments


Perempuan mana yang mau jadi gendut. Kecuali para perempuan di suku-suku tertentu di belahan dunia lain, nampaknya tidak ada yang mau menjadi gendut. Meskipun ia gemuk, berlemak, bergelambir di sana-sini ketika ada yang menilai dan berkomentar “Kamu kurusan ya” niscaya ada kelebatan rasa senang dalam hatinya. Atau kebalikannya, sekurus  kering apapun, ketika satu saja yang berkomentar dia (hanya) agak gemukan, pasti kekhawatiran langsung memenuhi kepalanya. Berkaca berkali-kali, memeriksa bagian mana yang bertambah tebal. Mengurangi porsi makan. Kenapa? Karena takut gemuk.

Read more »

_sendiri_


posted by merah langit

4 comments

ada berapa lama waktu yang kau habiskan untuk dirimu sendiri?
dalam hitunganku, kau selalu melakukannya
hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, sebulan yang lalu, setahun yang lalu
kau habiskan untuk dirimu


Read more »

apa kabar?


posted by ayu

1 comment


terlintas rasa yang sama
seperti ketika duduk bersama dalam lingkaran.
Tak banyak buah ilmu yang mampu dikuliti, kemudian dinikmati.
Namun adakah yang bisa menghitung transfer energi kebaikan yang mengalir dalam diam antara para pembentuk lingkaran?
Ada nasihat yang tak bersuara
ketika melihat dia, yang sungguh indah tilawahnya
ketika melihat dia, dengan ghirah menyala di bola mata
atau dia,yang seolah tak punya lelah, terus bekerja untuk dakwah

atau ketika
membaca catatan maya teman-teman di luar sana
yang membariskan misi -misi mulia
yang menorehkan tekad untuk tetap dalam perjuangan
yang mengisahkan keseharian dengan sirat kesalihan

rasa yang sama
dan selalu menghantarkan tanya

apa kabar imanmu hari ini?


merindu letup letup rasa beraneka
merindu simpul simpul senyum santun
merindu lantunan rabithah menggema dibilik bilik hati

mencederai janji


posted by ayu

14 comments

sebuah anggukan tanpa suara
sepatah 'ya' dlm detik pertama
kalimat pengingat yg tercatat dlm agenda

berharga sama.

Janji.
Yg tdk seharusnya tercederai.



Kadang, janji terasa demikian ringan diucapkan, namun berat ditunaikan. Sebagian orang bahkan seringkali mengumbar janji, seolah tanpa beban sama sekali. Padahal telah jelas disebutkan dalam Al-Quran: "Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)". Pertanggungjawaban ini tentu tidak semata pada sesama manusia, namun juga kepada Allah SWT, Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. Demikian besarnya perhatian Islam terhadap perkara janji ini, hingga Rasulullah pun memerintahkan orang tua memenuhi apa-apa yang diucapkan terhadap anaknya. “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan, demikian sabda Rasulullah SAW ketika beliau mendengar seorang ibu yang memanggil anaknya sembari menjanjikan untuk memberinya sesuatu.

Menepati janji adalah wajib, kecuali dalam maksiat kepada Allah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul yang mulia. Mereka insan utama yang senantiasa menjaga diri dari mencederai janji, berkebalikan dengan orang-orang munafik yang berdusta ketika berkata, berkhianat ketika dipercaya dan ingkar atas janji. Al-Amin, julukan yang telah melekat pada diri Rasulullah menjadi satu bukti betapa sifat menetapi janji ini tidak hanya beliau lakukan terhadap para sahabat dan umat yang beliau cintai, tetapi juga kepada orang-orang yang membenci ajaran beliau kala itu.
Terhadap orang-orang yang senantiasa menepati janjinya, Allah jamin baginya surga. Perjuangan menuju ke sana setidaknya memerlukan dua pilar, kesungguhan dan kehati-hatian. Kesungguhan untuk menepati sekecil apapun perjanjian, baik pada diri sendiri maupun pada sesama. Juga kehati-hatian dalam mengikat perjanjian, agar tidak terlampau ringan dan berani berjanji, tanpa pertimbangan matang. Sebab tergadainya surga yang Allah janjikan bagi kita, terlampau mahal jika harus ditukar dengan janji-janji kosong yang diobral, hanya demi materi, gengsi, atau pemanis tujuan tersembunyi.

senantiasa tersenyum


posted by ayu

12 comments

Bukan karena ketampanan. Namun ada sesuatu yang menawan hati saya setiap kali melihatnya.
Wajah yang senantiasa tersenyum.




Bukan sekali dua kali kami melewati tempat biasa si bapak mangkal. Sekali waktu, empat tempat duduk dipenuhi anak kecil dan tawa riang mereka ketika menaiki wahana sederhana yang biasa disebut odong-odong itu. Namun di kesempatan lain, si bapak hanya sendirian, setia mengayuh pedal agar odong-odong tetap berputar, meski tanpa penumpang. Namun ada satu ekspresi yang selalu saya lihat dan catat, senyuman.

Setiap hari senantiasa menyajikan cerita berbeda dalam setiap penggalnya, termasuk hari-hari milik si bapak berwajah senyum itu. Kemarin bahagia, hari ini banjir air mata, esok entah seperti apa. Kemarin rupiah melimpah, hari ini belum ada sama sekali, mungkin bapak itu pun pernah mengalami. Namun yang menjadikannya istimewa adalah, wajahnya yang senantiasa tersenyum, apapun lakon yang dijalani. Di suatu hari, bisa jadi benaknya dipenuhi gema permintaan uang belanja dari istri tercinta,namun itu tak menyurutkan lengkung bibirnya. Sebab selalu tersedia asa yang dibungkus doa, bahwa rizki tidak akan pernah tertukar dan pengaturannya telah sempurna. Di saat lain, mungkin si bapak masih jelas mengingat ketika odong-odongnya tak berhenti berputar, dan kayuhan bersemangat dari kakinya turut menandakan syukur atas kelimpahan rizki hari ini. Dan lagi-lagi senyum menjadi saksi.

Bagi saya, seseorang yang mampu senantiasa tersenyum adalah seseorang yang memiliki keluasan samudera hati. Mampu mengawal setiap episode hidup dengan senyuman yang tidak hanya berhenti di bibir, namun bersumber dari hati. Dan segala yang berasal dari hati, saya yakin, mampu menyentuh hati-hati yang lain.

Terima kasih telah membagi senyum pada hati kami,pak..