menjadi gendut


posted by merah langit

12 comments


Perempuan mana yang mau jadi gendut. Kecuali para perempuan di suku-suku tertentu di belahan dunia lain, nampaknya tidak ada yang mau menjadi gendut. Meskipun ia gemuk, berlemak, bergelambir di sana-sini ketika ada yang menilai dan berkomentar “Kamu kurusan ya” niscaya ada kelebatan rasa senang dalam hatinya. Atau kebalikannya, sekurus  kering apapun, ketika satu saja yang berkomentar dia (hanya) agak gemukan, pasti kekhawatiran langsung memenuhi kepalanya. Berkaca berkali-kali, memeriksa bagian mana yang bertambah tebal. Mengurangi porsi makan. Kenapa? Karena takut gemuk.

Apa pasal. Hampir semua tayangan-tayangan di media mencuci otak kita, bahwa cantik itu adalah yang berpinggang ramping, lekukan tubuh proporsional, berleher jenjang, berkaki panjang, standar peragawati-pramugari. Sejak kecil anak-anak perempuan  telah disuguhi Barbie, tayangan-tayangan princess Disney  yang  menunjukkan standar cantik dalam satu ragam yang sama. Cinderella, Belle, Snow White, Jasmine, Rapunzel, bahkan Mulan yang menyamar sebagai laki-laki semua berperawakan sama. Kurus dan langsing. Kecuali Putri Viona yang memilih untuk menjadi oger hijau yang  gendut dan suka berendam dalam lumpur.
Pada kenyataannya, secara fisik banyak yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai cantik kalau standarnya adalah kurus, tinggi, langsing. Allah menciptakan mahluknya dalam beragam postur, gendut, kurus, besar, kecil, jangkung, pendek, cebol.  Tapi apakah mereka tidak cantik? Kalau itu saya tidak bisa menjawab. Namun Allah sendiri yang menegaskannya.
Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (At Tiin : 4)
Namun, sayangnya dalam kelompok sosial yang isinya beragam bentuk itu, banyak yang  yang sudah teracuni pikirannya hingga menstandarkan penilaian pada satu dua kriteria saja. Masalahnya akan berhenti dan tidak akan berkembang seandainya pemikiran tadi hanya sekedar pemikiran, atau kemudian dibarengi dengan pengertian, pemakluman, pemahaman. Namun, sifat manusia (terutama perempuan) yang jahil, banyak bicara, tidak sanggup menahan diri akan mendorong mulut mereka berkomentar.
 Teguran, sapaan yang seharusnya dapat mengeratkan ikatan persaudaraan, silaturahim, terkadang tanpa sadar malah menyakiti. Komentar-komentar ringan (atau bisa juga dari lubuk hati yang terdalam) seperti “ Wah tambah subur ya”, “tambah sehat”, “tambah makmur” atau ungkapan lain yang menjurus ke fisik biasanya ringan sekali terucap.
Bagaimana tanggapan yang dikomentari, paling banyak biasanya cuma tersenyum. Ada yang mungkin akan tertawa, mungkin terlihat tidak terlalu mempedulikan atau ikut-ikut berkomentar,  sisanya berpura-pura tidak mendengar. Tapi tahukah, sebenarnya jauh di lubuk hati kebanyakan dari mereka terganggu. Yang sudah punya kepercayaan diri dan kebesaran hati mungkin akan mengeluarkan komentar itu dari tumpukan memorinya, sementara yang belum? Entahlah.
Saya teringat seorang teman, 2 tahun lalu dia meninggal karena sakit lupus. Sakit yang membuat sistem imun  menyerang tubuhnya sendiri. Dari informasi yang saya peroleh dari beberapa  teman, ia sakit karena mencoba untuk diet. Mungkin efek dari obat-obat diet yang ia minum penyebabnya. Kalau hal tersebut benar, berarti teman saya meninggal karena keinginannya untuk kurus. Mungkin ia terganggu dengan pandangan dari orang-orang di sekitarnya. Mungkin banyak yang berkomentar mengenai penampilannya. Mungkin…
Saya yakin, tidak ada orang yang benar-benar tidak mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Tidak ada yang 100% mencela diri sendiri. Terkadang ia sudah bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya. Tidak menyesali semua pemberian gratis dari Allah untuknya. Tapi, begitu banyaknya lisan mengomentari, mencela, menghina (meski terkadang tidak dimaksudkan untuk itu) perlahan-lahan dapat mengiris rasa syukur itu.
Tidakkah terpikirkan bagaimana hati saudara kita itu. Jadi gendut itu tidak mudah, saat yang lain bebas berlari, orang gendut harus terengah-engah, paru-parunya terkadang tidak sekuat orang yang kurus. Saat mereka ke toko pakaian, menginginkan baju yang sedang menjadi tren mereka harus menyerah karena tidak ada ukuran yang muat dengannya. Belum lagi dengan ancaman-ancaman penyakit.  Jadi kenapa harus menambahi pikirannya dengan ucapan-ucapan tak bermanfaat-melemahkan semangat dari lisan kita.



12 comments

Leave a Reply