posted by merah langit
posted by merah langit
ada berapa lama waktu yang kau habiskan untuk dirimu sendiri?
dalam hitunganku, kau selalu melakukannya
hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, sebulan yang lalu, setahun yang lalu
kau habiskan untuk dirimu
Read more »
posted by ayu
terlintas rasa yang sama
seperti ketika duduk bersama dalam lingkaran.
Tak banyak buah ilmu yang mampu dikuliti, kemudian dinikmati.
Namun adakah yang bisa menghitung transfer energi kebaikan yang mengalir dalam diam antara para pembentuk lingkaran?
Ada nasihat yang tak bersuara
ketika melihat dia, yang sungguh indah tilawahnya
ketika melihat dia, dengan ghirah menyala di bola mata
atau dia,yang seolah tak punya lelah, terus bekerja untuk dakwah
atau ketika
membaca catatan maya teman-teman di luar sana
yang membariskan misi -misi mulia
yang menorehkan tekad untuk tetap dalam perjuangan
yang mengisahkan keseharian dengan sirat kesalihan
rasa yang sama
dan selalu menghantarkan tanya
apa kabar imanmu hari ini?
merindu letup letup rasa beraneka
merindu simpul simpul senyum santun
merindu lantunan rabithah menggema dibilik bilik hati
posted by ayu
sebuah anggukan tanpa suara
sepatah 'ya' dlm detik pertama
kalimat pengingat yg tercatat dlm agenda
berharga sama.
Janji.
Yg tdk seharusnya tercederai.
Kadang, janji terasa demikian ringan diucapkan, namun berat ditunaikan. Sebagian orang bahkan seringkali mengumbar janji, seolah tanpa beban sama sekali. Padahal telah jelas disebutkan dalam Al-Quran: "Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)". Pertanggungjawaban ini tentu tidak semata pada sesama manusia, namun juga kepada Allah SWT, Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. Demikian besarnya perhatian Islam terhadap perkara janji ini, hingga Rasulullah pun memerintahkan orang tua memenuhi apa-apa yang diucapkan terhadap anaknya. “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan, demikian sabda Rasulullah SAW ketika beliau mendengar seorang ibu yang memanggil anaknya sembari menjanjikan untuk memberinya sesuatu.
Menepati janji adalah wajib, kecuali dalam maksiat kepada Allah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul yang mulia. Mereka insan utama yang senantiasa menjaga diri dari mencederai janji, berkebalikan dengan orang-orang munafik yang berdusta ketika berkata, berkhianat ketika dipercaya dan ingkar atas janji. Al-Amin, julukan yang telah melekat pada diri Rasulullah menjadi satu bukti betapa sifat menetapi janji ini tidak hanya beliau lakukan terhadap para sahabat dan umat yang beliau cintai, tetapi juga kepada orang-orang yang membenci ajaran beliau kala itu.
Terhadap orang-orang yang senantiasa menepati janjinya, Allah jamin baginya surga. Perjuangan menuju ke sana setidaknya memerlukan dua pilar, kesungguhan dan kehati-hatian. Kesungguhan untuk menepati sekecil apapun perjanjian, baik pada diri sendiri maupun pada sesama. Juga kehati-hatian dalam mengikat perjanjian, agar tidak terlampau ringan dan berani berjanji, tanpa pertimbangan matang. Sebab tergadainya surga yang Allah janjikan bagi kita, terlampau mahal jika harus ditukar dengan janji-janji kosong yang diobral, hanya demi materi, gengsi, atau pemanis tujuan tersembunyi.
posted by ayu
Wajah yang senantiasa tersenyum.
Bukan sekali dua kali kami melewati tempat biasa si bapak mangkal. Sekali waktu, empat tempat duduk dipenuhi anak kecil dan tawa riang mereka ketika menaiki wahana sederhana yang biasa disebut odong-odong itu. Namun di kesempatan lain, si bapak hanya sendirian, setia mengayuh pedal agar odong-odong tetap berputar, meski tanpa penumpang. Namun ada satu ekspresi yang selalu saya lihat dan catat, senyuman.
Setiap hari senantiasa menyajikan cerita berbeda dalam setiap penggalnya, termasuk hari-hari milik si bapak berwajah senyum itu. Kemarin bahagia, hari ini banjir air mata, esok entah seperti apa. Kemarin rupiah melimpah, hari ini belum ada sama sekali, mungkin bapak itu pun pernah mengalami. Namun yang menjadikannya istimewa adalah, wajahnya yang senantiasa tersenyum, apapun lakon yang dijalani. Di suatu hari, bisa jadi benaknya dipenuhi gema permintaan uang belanja dari istri tercinta,namun itu tak menyurutkan lengkung bibirnya. Sebab selalu tersedia asa yang dibungkus doa, bahwa rizki tidak akan pernah tertukar dan pengaturannya telah sempurna. Di saat lain, mungkin si bapak masih jelas mengingat ketika odong-odongnya tak berhenti berputar, dan kayuhan bersemangat dari kakinya turut menandakan syukur atas kelimpahan rizki hari ini. Dan lagi-lagi senyum menjadi saksi.
Bagi saya, seseorang yang mampu senantiasa tersenyum adalah seseorang yang memiliki keluasan samudera hati. Mampu mengawal setiap episode hidup dengan senyuman yang tidak hanya berhenti di bibir, namun bersumber dari hati. Dan segala yang berasal dari hati, saya yakin, mampu menyentuh hati-hati yang lain.
Terima kasih telah membagi senyum pada hati kami,pak..
posted by ayu
Anda pernah memenangkan sebuah kuis, giveaway atau mendapat doorprize di perhelatan tertentu?Bagaimana perasaan anda saat nama anda diumumkan sebagai penggondol hadiah, apapun itu? Yang pasti ada rasa senang dengan dibumbui sedikit banyak keterkejutan.
Atas apa apa yang anda terima saat itu,anda merasa sangat beruntung dan berbahagia. Sebab sesederhana apapun bentuknya, hadiah selalu menjadi alasan yang tidak perlu dijelaskan bagi sebentuk senyuman, dan mungkin, lafazh hamdalah sesudahnya.
Perasaan bahagia itu,kurang lebih karena merasa terpilih, diantara sekian banyak orang lain, dan andalah yang mendapat hadiah. Perasaan bahagia itu, kurang lebih karena mendapat 'nikmat tambahan' yang tidak setiap hari terjadi.
Dan dalam balutan rasa bahagia itu, saya yakin anda tidak akan berkeberatan mendemonstrasikan ungkapan syukur baik melalui lisan maupun tindakan.
Lalu bagaimana dengan perhelatan akbar bernama kehidupan yang juga menjanjikan hadiah dariNya bertebaran?
Misalnya, nikmat iman yang jelas-jelas merupakan hadiah yang tidak dianugerahkan pada setiap orang.
Demikian juga dengan kesehatan, kekayaan, kesempatan belajar dan bekerja dengan tenang, keluarga yang penuh kasih sayang yang selama ini telah melekat, menjadi bagian dari keseharian kehidupan hingga tak pernah terasa sebagai nikmat karena terlampau sering kita diperbolehkan menikmatinya.
Maka ketika sakit datang, kemiskinan membayang, keamanan mulai dipertanyakan, dan ketidaknyamanan berada di antara keluarga mulai ada, kita perlahan mulai memaknai kembali arti nikmat-nikmat tersebut selama ini. Karena sejatinya, kesehatan, kekayaan, keamanan dan kasih sayang bisa jadi tidak diperoleh setiap hari.
Begitu banyak Allah menyediakan hadiah bagi kita, yang kemudian tersisa adalah satu pertanyaan,
atas "hadiah" luar biasa dari Allah bagi kita, berkeberatankah kita mendemonstrasikan ungkapan syukur kita secara luar biasa pula melalui lisan dan tindakan?
posted by ayu
bismillaahirrahmaanirrahiim
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Huud: 112).
Ayat inilah yang membuat uban tumbuh lebih cepat di kepala Rasulullah SAW karena begitu beratnya perintah istiqomah yang terkandung di dalamnya.Sama sekali bukan perkara mudah. Dan sungguh perintah ini adalah perintah yang tidak main-main.
Berupaya menetapi kebenaran dan terus berjalan dalam kebaikan adalah satu hal yang sungguh-sungguh butuh perjuangan.
Sejarah telah mencatat satu wujud istiqomah ketika hanya seruan Ahad, Ahad dan Ahad yang terucap dari Bilal meski setiap inci tubuhnya terbakar terik matahari, dengan punggung telanjang yang kepanasan dan perut ditindih batu besar. Sejarah juga tidak akan pernah lupa pada keteladanan para nabi dan rasul terdahulu. sebab mereka mengisahkan istiqomah sebagai jiwa dari setiap gerak langkah dakwah.
Lalu,bagaimana dengan umat Muhammad saat ini? Dengan ujian yang tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dahsyatnya ujian yang diterima para Nabi dan Rasul yang mulia?
Istiqomah adalah perkara yang beratnya luar biasa. Berjalan lurus dan terus-menerus jelas memerlukan perbekalan dan stamina jiwa yang prima. Sementara diri ini kerap dikalahkan kemalasan, keengganan, juga penundaan. Maka bagaimana mungkin stamina jiwa akan prima dalam pergulatan panjang melawan tipu daya syaithan? Sementara diri ini lebih sering disibukkan oleh remah-remah dunia seolah Izrail bersedia menangguhkan pelaksanaan tugasnya. Maka bekal apa yang hendak dibawa dalam perjalanan mencari dan mengikuti cahaya kebenaran menuju hidup yang abadi?
Istiqomah adalah perkara luar biasa yang menuntut upaya luar biasa pula. Sebab kemenangan atasnya pun berhadiah kenikmatan yang sangat luar biasa, surga. Dan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Dan bidadari-bidadari bermata jeli yang senantiasa suci. Terlebih, kita menantikan pertemuan dengan Dzat pemilik Langit dan Bumi.
Maka mari bergandeng tangan dan saling mendoakan, agar kita senantiasa berada dalam kebaikan, dan menapak menetapi kebenaran hingga kerinduan kita pada-Nya, menemukan muara.
Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah
(Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).”
posted by Shabra Shatila
posted by ayu
Seberapa jauh pun berlari,
kemanapun berupaya menjauh dan bersembunyi
segumpal hati selalu bisa mengenali
Menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan
Melarikan pusaran pikiran hanya pada keinginan kebendaan
Menghitung pacu waktu untuk memburu kilau dunia yang sebenarnya semu
segumpal hati tak kan tertipu
Lantang teriak dan gertak
Menyangkal, menunda, pun mengingkari
Rumit dalih terperinci rapi
segumpal hati lirih berbisik tak berhenti
hanya dengan mengingat Allah tercipta ketentraman hati
posted by ayu
tidak.
Saya tidak pernah berkenalan sebelumnya. Kami baru bertemu, atau lebih tepatnya saya mencegatnya di depan sebuah warung. Begitulah pertemuan pertama kami terjadi.
Tidak. Saya tidak mengenal dia sebelumnya. Namun kibar jilbab lebarnya menyulut asa,sebab konon kabarnya,akhwat berjilbab memiliki kebaikan hati.
Saya, seorang bingung yang hendak menuju suatu tempat dengan jarak tempuh lumayan. Diburu waktu dan dalam kondisi penuh kecemasan, meminta jilbab biru mengantarkan saya ke tujuan.
Dia, bidadari berjilbab biru mengangguk setuju. Menyimpan sayur yang baru saja dibelinya ke dalam ransel biru senada jilbabnya, dan kami pun memulai perjalanan.
Sepotong petang di atas motor yang melaju perlahan, berboncengan dua orang yang tadinya tak pernah saling kenal.
Sepotong petang berisikan penggal penggal cerita yang mengaduk hati kecil saya. Tentang ghirah dakwah di kampusnya, tentang kecintaan pada jilbabnya, tentang keinginan utk lebih sering mengunjungi bapak ibu, tentang harus berhutang di akhir bulan, tentang adiknya, tentang orangtua angkatnya, dan tentang keyakinannya bahwa Allah akan selalu menjaga hambaNya.
Tidak. Saya memang tidak mengenal dia sebelumnya. Tapi perkenalan singkat kami meninggalkan sepotong hati yang menangis dalam sunyi.Satu hal yang saya yakini, Allah mengirimkan bidadari berjilbab biru ini untuk menjewer telinga saya yang dipenuhi gemuruh dunia, juga mencubit nurani yang kerap mati suri sebab tak lagi ingat mati.
posted by merah langit
Makan apa hari ini?
Makan dimana hari ini?
Syukurlah kalau pertanyaan2 itu yang berkelebat dalam benak kita
Karena artinya kita masih memiliki kecukupan kemampuan untuk mengusahakan antara kebutuhan perut dengan keinginan hati…
Alhamdulillah.. Read more »
posted by merah langit
posted by Shabra Shatila on komitmen
posted by Shabra Shatila on cinta, keluarga
posted by Shabra Shatila on maut
posted by merah langit
Ada seorang wanita muda berkerudung, pakaiannya sederhana, terlihat dari bahan dan potongannya. Sepertinya bukan baju mahal branded luar negeri. Wajahnya juga sederhana, tidak cantik namun tidak buruk rupa. Biasa saja.
Di satu sore itu masuk ke dalam sebuah toko di dalam sebuah mall besar, toko sepatu. Rupa2nya ia ingin membeli sepatu. Sepatu2 yang dijual disana tidak terlalu mahal, ukuran kantong mahasiswa pun sanggup membelinya. Pastinya wanita itu pun sanggup. Dilihatnya etalase demi etalase. Dalam pencariannya, pramuniaga terlihat begitu terganggu, merasa tidak yakin karena penampilannya yang sederhana. Diikutinya si wanita, kemanapun ia bergerak. Dipasangnya wajah “sepertinya kau tak akan membeli” yang judes dan tidak menyenangkan. Diperlakukan demikian, si wanita tersenyum. Kemudian keluar, ia tidak jadi membeli.
posted by ayu
Wahai Yang menguasai langit dan bumi
Yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa
Wahai sebaik baik penjaga
Hamba mohon perlindunganMu
Dari malam yang berkawan bahaya
Dari pekat yang dipenuhi tipu daya
Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara semua makhlukNya
Hamba mohon belas kasihMu
Agar engkau berkenan memberikan keberkahan hari kala hamba terjaga nanti
Amiin
posted by Shabra Shatila
posted by ayu on kuningmentari
22 Desember 2010
sebuah anugerah
Allah memberi saya kepercayaan atas satu amanah
Mengandung dalam usia 6 bulan perjalanan yang penuh warna
antara segala rasa yang bercampur, hilang timbul
syukur dan ragu yang tak juga berujung
was was juga cemas
takjub, tak percaya bahkan nyaris tak merasa kuasa
adalah sebuah anugerah
ketika ananda menyapa dengan tendangan kecil
saat saat tersadarkan, ada denyut teratur seiring detak syukur
dan lagi lagi
sebuah harmoni tentang tanggung jawab bernyanyi dalam hati
Bunda,
panggilan mulia
dan sandang amat besar didalamnya
memandumu mengeja segala,
tentang cinta
mencinta dengan sebenar benar cinta pada Sang Pencinta
menjadi pribadi yang penuh energi mencintai
tentang sayang
terutama pada sesama
terlebih pada yang papa
tentang kehidupan
memilih yang kekal
mengenali kesejatian kampung keabadian
tentang cita
membangun istana berhiaskan intan mutiara di surga
bertetangga dengan wajah wajah bersinar memancar
menjemput syahid sesudah berjuang demi kemuliaan Islam
tentang ilmu
menghimpun tanpa jemu
membagi tanpa ragu
duhai permata hati, akankah bunda bisa??
menggenggam semua dalam pacu dengan pendulum waktu
Ananda sayang..
Doakan Bunda
agar mampu merangkai setiap detik waktu menyambutmu
dengan laku laku indah dan berkah
hingga nanti kita beriringan
menggapai cinta Ar Rahman
posted by merah langit
Apa yang dapat kau banggakan dengan kemuslimanmu? Sholatmukah, sedekahmukah, puasamukah, kesabaranmukah, kejujuranmukah, keemampuanmu dan kecerdasanmukah? Seberapa banyak manfaat yang dapat kamu berikan untuk orang-orang di sekitarmu? Seberapa besar kebanggaan yang dapat kamu berikan dengan embel-embel muslim di dahimu.









