menjadi gendut


posted by merah langit

10 comments


Perempuan mana yang mau jadi gendut. Kecuali para perempuan di suku-suku tertentu di belahan dunia lain, nampaknya tidak ada yang mau menjadi gendut. Meskipun ia gemuk, berlemak, bergelambir di sana-sini ketika ada yang menilai dan berkomentar “Kamu kurusan ya” niscaya ada kelebatan rasa senang dalam hatinya. Atau kebalikannya, sekurus  kering apapun, ketika satu saja yang berkomentar dia (hanya) agak gemukan, pasti kekhawatiran langsung memenuhi kepalanya. Berkaca berkali-kali, memeriksa bagian mana yang bertambah tebal. Mengurangi porsi makan. Kenapa? Karena takut gemuk.

Read more »

_sendiri_


posted by merah langit

4 comments

ada berapa lama waktu yang kau habiskan untuk dirimu sendiri?
dalam hitunganku, kau selalu melakukannya
hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, sebulan yang lalu, setahun yang lalu
kau habiskan untuk dirimu


Read more »

apa kabar?


posted by ayu

1 comment


terlintas rasa yang sama
seperti ketika duduk bersama dalam lingkaran.
Tak banyak buah ilmu yang mampu dikuliti, kemudian dinikmati.
Namun adakah yang bisa menghitung transfer energi kebaikan yang mengalir dalam diam antara para pembentuk lingkaran?
Ada nasihat yang tak bersuara
ketika melihat dia, yang sungguh indah tilawahnya
ketika melihat dia, dengan ghirah menyala di bola mata
atau dia,yang seolah tak punya lelah, terus bekerja untuk dakwah

atau ketika
membaca catatan maya teman-teman di luar sana
yang membariskan misi -misi mulia
yang menorehkan tekad untuk tetap dalam perjuangan
yang mengisahkan keseharian dengan sirat kesalihan

rasa yang sama
dan selalu menghantarkan tanya

apa kabar imanmu hari ini?


merindu letup letup rasa beraneka
merindu simpul simpul senyum santun
merindu lantunan rabithah menggema dibilik bilik hati

mencederai janji


posted by ayu

14 comments

sebuah anggukan tanpa suara
sepatah 'ya' dlm detik pertama
kalimat pengingat yg tercatat dlm agenda

berharga sama.

Janji.
Yg tdk seharusnya tercederai.



Kadang, janji terasa demikian ringan diucapkan, namun berat ditunaikan. Sebagian orang bahkan seringkali mengumbar janji, seolah tanpa beban sama sekali. Padahal telah jelas disebutkan dalam Al-Quran: "Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)". Pertanggungjawaban ini tentu tidak semata pada sesama manusia, namun juga kepada Allah SWT, Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. Demikian besarnya perhatian Islam terhadap perkara janji ini, hingga Rasulullah pun memerintahkan orang tua memenuhi apa-apa yang diucapkan terhadap anaknya. “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan, demikian sabda Rasulullah SAW ketika beliau mendengar seorang ibu yang memanggil anaknya sembari menjanjikan untuk memberinya sesuatu.

Menepati janji adalah wajib, kecuali dalam maksiat kepada Allah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul yang mulia. Mereka insan utama yang senantiasa menjaga diri dari mencederai janji, berkebalikan dengan orang-orang munafik yang berdusta ketika berkata, berkhianat ketika dipercaya dan ingkar atas janji. Al-Amin, julukan yang telah melekat pada diri Rasulullah menjadi satu bukti betapa sifat menetapi janji ini tidak hanya beliau lakukan terhadap para sahabat dan umat yang beliau cintai, tetapi juga kepada orang-orang yang membenci ajaran beliau kala itu.
Terhadap orang-orang yang senantiasa menepati janjinya, Allah jamin baginya surga. Perjuangan menuju ke sana setidaknya memerlukan dua pilar, kesungguhan dan kehati-hatian. Kesungguhan untuk menepati sekecil apapun perjanjian, baik pada diri sendiri maupun pada sesama. Juga kehati-hatian dalam mengikat perjanjian, agar tidak terlampau ringan dan berani berjanji, tanpa pertimbangan matang. Sebab tergadainya surga yang Allah janjikan bagi kita, terlampau mahal jika harus ditukar dengan janji-janji kosong yang diobral, hanya demi materi, gengsi, atau pemanis tujuan tersembunyi.

senantiasa tersenyum


posted by ayu

12 comments

Bukan karena ketampanan. Namun ada sesuatu yang menawan hati saya setiap kali melihatnya.
Wajah yang senantiasa tersenyum.




Bukan sekali dua kali kami melewati tempat biasa si bapak mangkal. Sekali waktu, empat tempat duduk dipenuhi anak kecil dan tawa riang mereka ketika menaiki wahana sederhana yang biasa disebut odong-odong itu. Namun di kesempatan lain, si bapak hanya sendirian, setia mengayuh pedal agar odong-odong tetap berputar, meski tanpa penumpang. Namun ada satu ekspresi yang selalu saya lihat dan catat, senyuman.

Setiap hari senantiasa menyajikan cerita berbeda dalam setiap penggalnya, termasuk hari-hari milik si bapak berwajah senyum itu. Kemarin bahagia, hari ini banjir air mata, esok entah seperti apa. Kemarin rupiah melimpah, hari ini belum ada sama sekali, mungkin bapak itu pun pernah mengalami. Namun yang menjadikannya istimewa adalah, wajahnya yang senantiasa tersenyum, apapun lakon yang dijalani. Di suatu hari, bisa jadi benaknya dipenuhi gema permintaan uang belanja dari istri tercinta,namun itu tak menyurutkan lengkung bibirnya. Sebab selalu tersedia asa yang dibungkus doa, bahwa rizki tidak akan pernah tertukar dan pengaturannya telah sempurna. Di saat lain, mungkin si bapak masih jelas mengingat ketika odong-odongnya tak berhenti berputar, dan kayuhan bersemangat dari kakinya turut menandakan syukur atas kelimpahan rizki hari ini. Dan lagi-lagi senyum menjadi saksi.

Bagi saya, seseorang yang mampu senantiasa tersenyum adalah seseorang yang memiliki keluasan samudera hati. Mampu mengawal setiap episode hidup dengan senyuman yang tidak hanya berhenti di bibir, namun bersumber dari hati. Dan segala yang berasal dari hati, saya yakin, mampu menyentuh hati-hati yang lain.

Terima kasih telah membagi senyum pada hati kami,pak..

hadiah-hadiah


posted by ayu

4 comments



gambar dari sini

Anda pernah memenangkan sebuah kuis, giveaway atau mendapat doorprize di perhelatan tertentu?Bagaimana perasaan anda saat nama anda diumumkan sebagai penggondol hadiah, apapun itu? Yang pasti ada rasa senang dengan dibumbui sedikit banyak keterkejutan.
Atas apa apa yang anda terima saat itu,anda merasa sangat beruntung dan berbahagia. Sebab sesederhana apapun bentuknya, hadiah selalu menjadi alasan yang tidak perlu dijelaskan bagi sebentuk senyuman, dan mungkin, lafazh hamdalah sesudahnya.
Perasaan bahagia itu,kurang lebih karena merasa terpilih, diantara sekian banyak orang lain, dan andalah yang mendapat hadiah. Perasaan bahagia itu, kurang lebih karena mendapat 'nikmat tambahan' yang tidak setiap hari terjadi.
Dan dalam balutan rasa bahagia itu, saya yakin anda tidak akan berkeberatan mendemonstrasikan ungkapan syukur baik melalui lisan maupun tindakan.

Lalu bagaimana dengan perhelatan akbar bernama kehidupan yang juga menjanjikan hadiah dariNya bertebaran?
Misalnya, nikmat iman yang jelas-jelas merupakan hadiah yang tidak dianugerahkan pada setiap orang.
Demikian juga dengan kesehatan, kekayaan, kesempatan belajar dan bekerja dengan tenang, keluarga yang penuh kasih sayang yang selama ini telah melekat, menjadi bagian dari keseharian kehidupan hingga tak pernah terasa sebagai nikmat karena terlampau sering kita diperbolehkan menikmatinya.
Maka ketika sakit datang, kemiskinan membayang, keamanan mulai dipertanyakan, dan ketidaknyamanan berada di antara keluarga mulai ada, kita perlahan mulai memaknai kembali arti nikmat-nikmat tersebut selama ini. Karena sejatinya, kesehatan, kekayaan, keamanan dan kasih sayang bisa jadi tidak diperoleh setiap hari.

Begitu banyak Allah menyediakan hadiah bagi kita, yang kemudian tersisa adalah satu pertanyaan,
atas "hadiah" luar biasa dari Allah bagi kita, berkeberatankah kita mendemonstrasikan ungkapan syukur kita secara luar biasa pula melalui lisan dan tindakan?

bukan perkara mudah


posted by ayu

1 comment

bismillaahirrahmaanirrahiim

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Huud: 112).
Ayat inilah yang membuat uban tumbuh lebih cepat di kepala Rasulullah SAW karena begitu beratnya perintah istiqomah yang terkandung di dalamnya.Sama sekali bukan perkara mudah. Dan sungguh perintah ini adalah perintah yang tidak main-main.
Berupaya menetapi kebenaran dan terus berjalan dalam kebaikan adalah satu hal yang sungguh-sungguh butuh perjuangan.

Sejarah telah mencatat satu wujud istiqomah ketika hanya seruan Ahad, Ahad dan Ahad yang terucap dari Bilal meski setiap inci tubuhnya terbakar terik matahari, dengan punggung telanjang yang kepanasan dan perut ditindih batu besar. Sejarah juga tidak akan pernah lupa pada keteladanan para nabi dan rasul terdahulu. sebab mereka mengisahkan istiqomah sebagai jiwa dari setiap gerak langkah dakwah.

Lalu,bagaimana dengan umat Muhammad saat ini? Dengan ujian yang tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dahsyatnya ujian yang diterima para Nabi dan Rasul yang mulia?

Istiqomah adalah perkara yang beratnya luar biasa. Berjalan lurus dan terus-menerus jelas memerlukan perbekalan dan stamina jiwa yang prima. Sementara diri ini kerap dikalahkan kemalasan, keengganan, juga penundaan. Maka bagaimana mungkin stamina jiwa akan prima dalam pergulatan panjang melawan tipu daya syaithan? Sementara diri ini lebih sering disibukkan oleh remah-remah dunia seolah Izrail bersedia menangguhkan pelaksanaan tugasnya. Maka bekal apa yang hendak dibawa dalam perjalanan mencari dan mengikuti cahaya kebenaran menuju hidup yang abadi?

Istiqomah adalah perkara luar biasa yang menuntut upaya luar biasa pula. Sebab kemenangan atasnya pun berhadiah kenikmatan yang sangat luar biasa, surga. Dan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Dan bidadari-bidadari bermata jeli yang senantiasa suci. Terlebih, kita menantikan pertemuan dengan Dzat pemilik Langit dan Bumi.

Maka mari bergandeng tangan dan saling mendoakan, agar kita senantiasa berada dalam kebaikan, dan menapak menetapi kebenaran hingga kerinduan kita pada-Nya, menemukan muara.




Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah 
(Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).”



Membiasakan yang Tak Biasa


posted by Shabra Shatila

4 comments


Kira-kira apa yang pertama kali melintas di benak kita saat pertama kali melihat ada satu bayi yang ketika terlahir dia tidak menangis tapi justru menyanyi dengan bahasa yang dapat kita mengerti dengan sebegitu jelasnya?? Berani taruhan, dunia pasti gempar. Berita tentang bayi itu pasti menjadi headline utama di semua media online, media cetak, televisi, radio, dan menjadi trending topic semua perbincangan. Semua orang akan terheran dan beropini sesuka hati. Sungguh aneh. Amazing. Bayi ajaib. Kiamat sudah akan datang. Perubahan genetika yang sangat masif. Dan komentar-komentar lain sesuai apa yang mereka yakini berdasar latar belakang ilmu yang mereka miliki.

Jika beberapa waktu kemudian kembali lagi ada bayi yang mengalami kasus sama, maka orang akan semakin sibuk dengan memperdalam hipotesis tentang penyebabnya namun kepopulerannya tidak akan seriuh bayi yang pertama. Jika kemudian ternyata berikutnya ada berpuluh-puluh bayi dengan kasus yang sama atau bahkan setiap bayi yang lahir langsung bisa bernyanyi semua, maka sudah bisa dipastikan berita itu tak kan lagi menggelitik keingintahuan. Mereka sudah menganggapnya suatu hal yang wajar. Biasa. Walaupun bisa jadi belum ditemukan juga apa sebenarnya penyebab pastinya.

Read more »

lubang hati


posted by ayu

2 comments

Seberapa jauh pun berlari,
kemanapun berupaya menjauh dan bersembunyi

segumpal hati selalu bisa mengenali

Menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan
Melarikan pusaran pikiran hanya pada keinginan kebendaan
Menghitung pacu waktu untuk memburu kilau dunia yang sebenarnya semu

segumpal hati tak kan tertipu

Lantang teriak dan gertak
Menyangkal, menunda, pun mengingkari
Rumit dalih terperinci rapi

segumpal hati lirih berbisik tak berhenti
hanya dengan mengingat Allah tercipta ketentraman hati

bidadari berjilbab biru


posted by ayu

No comments

tidak.
Saya tidak pernah berkenalan sebelumnya. Kami baru bertemu, atau lebih tepatnya saya mencegatnya di depan sebuah warung. Begitulah pertemuan pertama kami terjadi.
Tidak. Saya tidak mengenal dia sebelumnya. Namun kibar jilbab lebarnya menyulut asa,sebab konon kabarnya,akhwat berjilbab memiliki kebaikan hati.

Saya, seorang bingung yang hendak menuju suatu tempat dengan jarak tempuh lumayan. Diburu waktu dan dalam kondisi penuh kecemasan, meminta jilbab biru mengantarkan saya ke tujuan.
Dia, bidadari berjilbab biru mengangguk setuju. Menyimpan sayur yang baru saja dibelinya ke dalam ransel biru senada jilbabnya, dan kami pun memulai perjalanan.

Sepotong petang di atas motor yang melaju perlahan, berboncengan dua orang yang tadinya tak pernah saling kenal.
Sepotong petang berisikan penggal penggal cerita yang mengaduk hati kecil saya. Tentang ghirah dakwah di kampusnya, tentang kecintaan pada jilbabnya, tentang keinginan utk lebih sering mengunjungi bapak ibu, tentang harus berhutang di akhir bulan, tentang adiknya, tentang orangtua angkatnya, dan tentang keyakinannya bahwa Allah akan selalu menjaga hambaNya.

Tidak. Saya memang tidak mengenal dia sebelumnya. Tapi perkenalan singkat kami meninggalkan sepotong hati yang menangis dalam sunyi.Satu hal yang saya yakini, Allah mengirimkan bidadari berjilbab biru ini untuk menjewer telinga saya yang dipenuhi gemuruh dunia, juga mencubit nurani yang kerap mati suri sebab tak lagi ingat mati.

Mulailah dari perut...


posted by merah langit

No comments


Makan apa hari ini?

Makan dimana hari ini?

Syukurlah kalau pertanyaan2 itu yang berkelebat dalam benak kita

Karena artinya kita masih memiliki kecukupan kemampuan untuk mengusahakan antara kebutuhan perut dengan keinginan hati…

Alhamdulillah..

Read more »

Dunia Tersekat Benci


posted by merah langit

No comments

Saat caci menjadi sapaan sehari-hari,
Saat tatap sinis menjadi yang paling manis
Saat pendar bahagia berarti ada yang tengah terluka.
Saat banyak kerutan kening akan membuatmu makin merasa penting

Read more »

Dimanakah Saya Bisa Membeli Komitmen?


posted by Shabra Shatila on

No comments




Komitmen, adalah satu hal yang mutlak diperlukan dalam hal apapun. Komitmen terhadap organisasi, terhadap pasangan, terhadap keluarga, terhadap agama, juga komitmen terhadap diri kita sendiri tentunya. Karena tanpa komitmen, kita tidak akan mampu melewati rintangan-rintangan yang berserakan di jalan menuju cita-cita besar kita. Tanpa komitmen, maka kita hanya akan menjadi para penghayal dan bukan menjadi para pemimpi. Walaupun secara istilah keduanya tidaklah berbeda jauh, tapi dalam konteks aplikasi maka bagaikan bumi dengan langit. Penghayal dan pemimpi adalah orang yang sama-sama membangun cita-cita besar tentang suatu hal di masa yang akan datang. Namun bedanya, kebesaran cita-cita seorang penghayal hanya tergambar dalam batok kepalanya saja sedangkan seorang pemimpi cita-cita besarnya tak hanya ada di kepalanya namun juga melahirkan berbilang jumlah kerja dan kesungguhan amal untuk mencapainya.

Read more »

MENCINTAI SEWAJARNYA


posted by Shabra Shatila on ,

No comments


Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran-Nya, dan hal prinsip dalam ukuran ini adalah ketawazunan/keseimbangan. Maka coba tengok saja, adakah ciptaan Allah yang keluar dari keseimbangan ini? Mulai dari penciptaan galaksi dan alam semesta hingga sampai pada materi terkecil dari suatu benda yang dikenal dengan istilah atom. Semuanya sesuai dengan ukuran. Tidak lebih. Dan tidak kurang.

Read more »

BAGAIMANA BILA SAYA MATI DALAM…


posted by Shabra Shatila on

No comments





Jumat kemarin, teman-teman seruangan saya mengadakan acara perpisahan bagi salah seorang pegawai yang purnabakti setelah mengabdi kepada Negara selama 34 tahun lamanya. Acara sengaja tidak diadakan di kantor agar terkesan lebih ‘pribadi’ dan tidak terjebak dalam keadaan formal. Maka pada akhirnya diputuskanlah untuk meminjam apartemen Bu Bos yang letaknya di belakang kantor sebagai tempat acara, agar jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak dan pekerjaan yang segera kami bisa langsung kembali ke kantor secepatnya.

Acara dipersiapkan secara sederhana, namun meriah. Ada acara lomba karaokenya untuk menambah kedekatan antar pegawai. Disiapkan juga doorprize-doorprize kecil-kecilan untuk menambah semaraknya acara. Sebelum berangkat perasaan saya sudah sangat tidak enak. Tapi saya tidak mungkin tidak ikut, karena bagaimanapun semua orang turut serta sebagai bentuk penghormatan kepada si Ibu yang telah menyelesaikan masa baktinya. Apalagi saya termasuk orang yang cukup dekat dengan Ibu yang purnabakti ini. Jadi berangkatlah saya bersama yang lain, dengan komitmen sedari awal saya tidak mau ikut karaokeannya. Cukuplah suara saya, didengar oleh cicak dan semut yang ada di dalam kamar kos saya hehe..

Read more »

Dunia Hanya Sebatas Pandang Mata


posted by merah langit

1 comment

Ada seorang wanita muda berkerudung, pakaiannya sederhana, terlihat dari bahan dan potongannya. Sepertinya bukan baju mahal branded luar negeri. Wajahnya juga sederhana, tidak cantik namun tidak buruk rupa. Biasa saja.

Di satu sore itu masuk ke dalam sebuah toko di dalam sebuah mall besar, toko sepatu. Rupa2nya ia ingin membeli sepatu. Sepatu2 yang dijual disana tidak terlalu mahal, ukuran kantong mahasiswa pun sanggup membelinya. Pastinya wanita itu pun sanggup. Dilihatnya etalase demi etalase. Dalam pencariannya, pramuniaga terlihat begitu terganggu, merasa tidak yakin karena penampilannya yang sederhana. Diikutinya si wanita, kemanapun ia bergerak. Dipasangnya wajah “sepertinya kau tak akan membeli” yang judes dan tidak menyenangkan. Diperlakukan demikian, si wanita tersenyum. Kemudian keluar, ia tidak jadi membeli.

Read more »

sebelum lelap malam


posted by ayu

No comments

Wahai Yang menguasai langit dan bumi
Yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa
Wahai sebaik baik penjaga

Hamba mohon perlindunganMu
Dari malam yang berkawan bahaya
Dari pekat yang dipenuhi tipu daya

Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara semua makhlukNya

Hamba mohon belas kasihMu
Agar engkau berkenan memberikan keberkahan hari kala hamba terjaga nanti

Amiin

MENIMBANG AMAL


posted by Shabra Shatila

No comments



Apakah anda saat ini sedang mengerjakan hal-hal besar? Jika iya, maka selamat untuk Anda, karena para pahlawan memang dilahirkan untuk memikul amanah-amanah besar yang tidak bisa dipikul oleh sembarang orang. Namun tunggu dulu, label ‘hal besar’ itu dipandang dari perspektif Anda sendiri, orang-orang umum di sekitar Anda, atau dari kaca mata siapa?

Kenapa saya menanyakan hal ini? karena saya sadar bahwa saya dan mungkin juga Anda, sering sekali menilai bobot suatu pekerjaan hanya dari lahirnya dan dari perspektif manusia-manusia di sekitar kita saja. Dengan melupakan perspektif lain yang jauh lebih krusial bagi diri kita.

Besar kecilnya pekerjaan jika dalam fiqh aulawiyat (fiqh prioritas) dipandang dari empat kaidah dasar, dimulai dari pekerjaan yang penting dan mendesak, pekerjaan yang tidak penting tapi mendesak, pekerjaan yang penting tapi tidak mendesak, serta pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. Penekanan mana pekerjaan yang harus didahulukan dalam buku tersebut mengacu pada ‘deadline’ pekerjaan. Hal tersebut tentu saja akan membuat hidup kita lebih sistematis dan membantu kita  tidak salah kaprah dalam memanajemen usia kita yang sangat singkat itu, agar tidak habis hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak berguna. Namun, sebelum kita menjadikan program prioritas ini sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘watak’ kita, maka akan lebih baik jika kita mempunyai ilmu tentang bagaimana menimbang besaran pekerjaan, amanah, atau amal; agar kita tidak salah memprioritaskan.

Jika misalnya saat ini Anda dihadapkan pada situasi dimana Anda diundang untuk menghadiri jamuan makan dengan Presiden bersama ratusan tamu yang lain, dan dalam waktu yang sama Anda juga menerima undangan dari panti asuhan untuk berbuka puasa dengan anak-anak yatim; maka undangan mana yang akan Anda hadiri?

Kalau saya bertanya kepada diri saya, maka tanpa berpikir lagi saya akan memenuhi undangan yang pertama dengan segera. Saya akan mempersiapkan momen itu jauh-jauh hari. Pakaian mana yang akan dipakai, jika dirasa sudah tidak ada yang ‘layak’ untuk menghadap orang nomor satu di negeri ini, maka dengan senang hati saya akan merogoh kocek saya untuk membelinya. Kendaraan yang akan digunakan untuk pergi ke sana. Make up untuk mempercantik wajah saya [walaupun mau di make up kayak apa ya gini-gini aja pastinya ;p]. Wajar dong, secara mungkin kesempatan itu tidak akan datang dua kali dalam hidup saya. Sedangkan ke panti asuhan bisa kapan saja.

Yah begitulah, saya masih sering memandang sesuatu hal hanya dari kemasan luarnya. Tentang prestise, gengsi, dan kebanggaan pribadi. Tentang apa dan bagaimana orang akan memandang saya. Semuanya terhenti pada manfaat dunia. Tanpa saya mencoba melihat nilai manfaat di akhirat nanti. Benarkah apa yang saya anggap besar tadi juga besar dalam timbangan-Nya? Bagaimana jika saya sudah merasa melakukan banyak amalan besar di dunia tapi termasuk dalam yang tersebut dalam QS. Al-Furqan ayat 23: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan (amalan) itu bagaikan debu yang beterbangan.”

Padahal hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang amalan kecil yang berat timbangannya dan juga tentang amalan besar yang tak ada nilainya itu bejibun banyaknya. Cuma kok ya tarikan dunia itu begitu menggoda. Sehingga kita masih saja seringkali mengabaikan hal-hal yang dalam perspektif kita kecil, dengan melupakan akibat di akhirat nantinya.

Tentu kita masih ingat kisah tentang seorang pezina yang diampuni oleh Allah swt karena berbaik hati memberi minum anjing yang kehausan sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim dan juga shahih Bukhari.

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita pezina melihat seekor anjing yang berputar-putar di atas sumur pada hari yang panas. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu menimba air dari sumur dengan sepatunya, maka dia diampuni.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni. Dia melewati seekor anjing di bibir sumur yang sedang menjulurkan lidahnya. Ia hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengikat dengan kerudungnya dan menimba air dengannya untuk anjing itu. Dia diampuni karenanya.” (HR. Bukhari)

Itu adalah contoh amal baik kecil yang membawa nikmat yang teramat besar. Ada juga contoh amal buruk kecil yang membawa petaka yang teramat besar pula, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi.”

Bukankah amal baik dan amal buruk yang membawa ke surga dan neraka dari hadis di atas menurut hemat kita bukanlah hal-hal yang bisa dianggap sebagai hal besar? Bahkan terlihat remeh temeh semata. Hanya karena keberlangsungan hidup seekor anjing dan kucing. Bukan tentang kehidupan seorang manusia atau masa depan masyarakat/umat. Ya, hanya karena hewan. Yang salah satunya bahkan ‘hanyalah’ hewan yang najis. Tapi begitulah cara Allah swt melalui Rasul-Nya mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menganggap enteng suatu amalan yang nampak kecil, karena kita tidak pernah tahu mungkin saja amal kecil itulah yang akan mengantarkan kita ke surga atau menjerumuskan kita ke neraka.

Maka sebelum usia kita habis untuk mengurusi hal-hal yang ‘nampak besar’, tak ada salahnya juga kita menyelipkan dalam aktivitas kita amal-amal sederhana. Bermuka manis di depan teman, mendahului salam, memberi senyuman, menata sendal, menyingkirkan duri/batu di tempat yang banyak dilalui orang, memungut sampah yang tercecer, dan banyak amal lain yang sebelumnya terabai dan tak terbetik dalam benak kita akan menjadi tangga menuju surga. Karena sungguh, amal kecil bisa bernilai sangat besar dengan niat yang baik dan benar.

Azamkan juga niat dalam hati untuk menghindarkan diri dari perkara-perkara kecil yang tidak baik seperti bermuka masam, membuang sampah kecil (bekas tisu, puntung rokok, bungkus permen) sembarangan, tidak meminta ijin memakai barang kepunyaan seseorang yang ditaruh di tempat bersama (sendal, pasta gigi, sisir dll) dan sederet adat buruk yang telah menjadi kebiasaan, karena bisa jadi hal-hal sepele itu yang akan menjatuhkan kita ke jurang kebinasaan. Bukankah orang sering kali terjatuh bukan karena menabrak batu besar di hadapan, tetapi mereka terjatuh justru karena tersandung/tergelincir kerikil kecil yang tak nampak dalam penglihatannya..?!

22 Desember 2010


posted by ayu on

No comments

22 Desember 2010

sebuah anugerah
Allah memberi saya kepercayaan atas satu amanah

Mengandung dalam usia 6 bulan perjalanan yang penuh warna
antara segala rasa yang bercampur, hilang timbul
syukur dan ragu yang tak juga berujung
was was juga cemas
takjub, tak percaya bahkan nyaris tak merasa kuasa

adalah sebuah anugerah
ketika ananda menyapa dengan tendangan kecil
saat saat tersadarkan, ada denyut teratur seiring detak syukur
dan lagi lagi
sebuah harmoni tentang tanggung jawab bernyanyi dalam hati


Bunda,
panggilan mulia
dan sandang amat besar didalamnya
memandumu mengeja segala,


tentang cinta
mencinta dengan sebenar benar cinta pada Sang Pencinta
menjadi pribadi yang penuh energi mencintai
tentang sayang
terutama pada sesama
terlebih pada yang papa
tentang kehidupan
memilih yang kekal
mengenali kesejatian kampung keabadian
tentang cita
membangun istana berhiaskan intan mutiara di surga
bertetangga dengan wajah wajah bersinar memancar
menjemput syahid sesudah berjuang demi kemuliaan Islam
tentang ilmu
menghimpun tanpa jemu
membagi tanpa ragu


duhai permata hati, akankah bunda bisa??
menggenggam semua dalam pacu dengan pendulum waktu


Ananda sayang..
Doakan Bunda
agar mampu merangkai setiap detik waktu menyambutmu
dengan laku laku indah dan berkah
hingga nanti kita beriringan
menggapai cinta Ar Rahman

Banggakah dengan kemuslimanmu?


posted by merah langit

No comments

Apa yang dapat kau banggakan dengan kemuslimanmu? Sholatmukah, sedekahmukah, puasamukah, kesabaranmukah, kejujuranmukah, keemampuanmu dan kecerdasanmukah? Seberapa banyak manfaat yang dapat kamu berikan untuk orang-orang di sekitarmu? Seberapa besar kebanggaan yang dapat kamu berikan dengan embel-embel muslim di dahimu.

Read more »